Tampilan Simple by: DRC 001. Powered by Blogger.

Tombol Share

       
   

HEBOH! PAKAI TANAH ADAT, 1 MUSALA 3 RUMAH HANCUR OLEH WARGA DI JEMBRANA BALI





DRC-MERDEKA.COM: Heboh!! Baru Kemarin Kejadiannya!! Bentrok antar kampung di Desa Yeh Daya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana menghancurkan rumah dan satu rumah ibadah. Salah satu kelompok warga tiba-tiba mengamuk di lokasi tanah adat Tukadaya yang berlokasi di pinggir sungai Tukadaya.

Kelompok warga tersebut sambil membawa linggis, palu dan kayu langsung merobohkan tiga unit bangunan rumah tinggal dan satu unit musala milik Samsi (50) warga Desa Yeh Daya, Kecamatan Melaya, Jembrana, Bali yang dinilai berdiri di atas tanah adat. Samsi dan keluarganya (termasuk warga pendatang di desa pekraman tersebut).

Aksi brutal ratusan warga tersebut tentu saja membuat penghuni rumah panik dan berhamburan menyelamatkan diri. Dua orang warga terluka akibat kejadian tersebut akibat terkena hantaman linggis dan kayu. Masing-masing Komari dan Rahmad.

Tiga unit rumah tinggal yang hancur dan rata dengan tanah milik Samsi, namun dihuni oleh sejumlah warga pengontrak.

"Kami tidak tahu apa-apa pak, kami di sini hanya mengontrak. Kami tidak tahu tanah ini menjadi sengketa," ujar Kartini (40) warga Jember yang mengaku baru mengontrak empat bulan di rumah Samsi, Senin (11/5) malam di lokasi kejadian.

Menurutnya warga tiba-tiba menyerang dan menghancurkan rumah serta musala sekitar pukul 18.00 Wita. Puluhan aparat kepolisian dari Polsek Melaya dan Polres Jembrana yang tiba di lokasi kejadian langsung melakukan pengamanan.

Petugas juga berhasil menyita sejumlah senjata tajam dari kedua kelompok warga yang bentrok, di antaranya linggis dan samurai. Saat ini dua kelompok warga yang terlibat bentrok masih diamankan oleh aparat kepolisian agar tidak terjadi bentrok susulan.

Diduga bentrok dipicu oleh Samsi, yang awalnya tinggal di Penuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, Jembrana, Bali dan kemudian pindah ke Desa Desa Yeh Daya atau biasa disebut Tukadaya, Kecamatan Melaya, Jembrana dan menempati tanah adat setempat yang sejatinya digunakan sebagai Catuspata (tempat pecaruan) oleh desa pakraman setempat.

Aparat desa pakraman dan warga sudah sering mengingatkan Samsi agar tidak menempati tanah tersebut namun tidak mengindahkan. Malah membangun tiga unit rumah untuk dikontrakan dan membangun musala.

Warga yang berang kemudian menghancurkan rumah namun sebelumnya dihadang oleh belasan warga lainnya yang merupakan keluarga dari Samsi. Saat ini aparat kepolisian, masih memediasi kedua kelompok warga yang bentrok di Kantor Desa.
berita dikutip dari: http://www.merdeka.com/peristiwa/musala-dan-3-rumah-dirobohkan-dalam-bentrok-warga-di-jembrana.html

Silahkan Cuplikan Komentar Beragam Dari Pembaca Denpasar Riders tentang peristiwa ini:




dan ada pembaca yang memberikan Konfirmasi:

terima kasih konfirmasinya @agengchandra adenaya


Akhir kata,
Kontributor harap pembaca dapat bijak menyikapi fenomena ini, jangan sampai terprovokasi, ingatlah peribahasa: "Dimana bumi dipijak di situ langit di junjung".

Bagaimana Pendapat anda tentang kejadian ini?

Pesan moral apa yang bisa dipetik?

Comments
0 Comments

0 Komentator:

Post a Comment

Thx for Your Visit! Keep Order! and please "comment" for Testimonial:

 
Modified by AQW pemain Indo Forum from Blogger Bali, Pasar Bali Code Sponsors: Agung Onie Code, Denpasar Riders Code